Muncul Lubang Ozon Raksasa di Kutub Utara, Apakah Berbahaya?

Beberapa waktu lalu orang-orang sempat dihebohkan dengan kondisi bumi yang menjadi jauh “lebih baik” akibat pandemic covid-19. Kualitas udara makin membaik, kondisi air makin jernih bahkan bumi terlihat lebih hijau dari luar angkasa. Selain itu diketahui lubang ozon yang sebelumnya telah menipis dan berlupang kembali menutup. Hal tersebut tentu menjadi berita gembira bagi penduduk bumi.

Namun kini dunia kembali dihebohkan dengan munculnya sebuah lubang langka yang tiba-tiba terbentuk di lapisan ozon Arktik selama beberapa hari belakangan. Lubang tersebut tidak pernah terlihat sebelumnya dan kini telah mencapai dimensi luar biasa besar dilihat dari pantauan luar angkasa.

Kepala peneliti bidang Ilmu Bumi di Goddard Space Flight Center milik NASA, Paul Newman berpendapat bahwa terbentuknya lubang langka tersebut disebabkan oleh suhu dingin yang terus menerus terjadi di wilayah kutub serta dinamika ozon yang terlalu tenang akhir-akhir ini.

“Ini adalah peristiwa yang tidak biasa. Selalu ada penipisan ozon di Arktik setiap tahun, tetapi 2020 ini lebih ekstrem dari biasanya,” ujar Newman dilansir dari NBC, Rabu (8/4/2020).

Lapisan ozon sendiri sangat bermanfaat bagi bumi, fungsinya untuk melindungi permukaan Bumi dari radiasi ultraviolet matahari yang berbahaya bagi manusia.

Akan tetapi, penggunaan bahan kimia buatan manusia (klorofluorokarbon)secara massif dalam kurun waktu seabad terakhir telah merusak lapisan ozon. Bahan kimia tersebut membuat lapisan ozon makin menipis hingga  berlubang-lubang di berbagai lokasi.

Tak hanya itu, Newman juga berpendapat bahwa faktor lain yang menyebabkan terbentuknya lubang di kutub utara adalah kurangnya pencampuran antara ozon di stratosfer pada tahun ini.

Muncul Lubang Ozon Raksasa di Kutub Utara, Apakah Berbahaya?

Tidak Berhubungan Dengan Situasi Pandemi

Biasanya, sistem cuaca bisa menghasilkan gelombang atmosfer besar yang melewati atmosfer tinggi ke rendah, dan mencampurkan ozon di stratosfer. Namun, atmosfer di Arktik pada tahun ini tidak biasa dan sangat tenang.

Dirinya pun berujar bahwa hingga saat ini, para ilmuwan masih belum mengetahui penyebab kenapa pencampuran di atmosfer melambat, namun demikian mereka meyakini fenomena tersebut kemungkinan besar adalah faktor kunci yang membuat lapisan ozon di Arktik menipis.

Hal senada juga disampaikan oleh Vincent-Henri Peuch, direktur Layanan Monitoring Atmosfer Copernicus, kepada Guardian, Selasa (7/4/2020).

Menurut Peuch, lubang yang terbentuk sama sekali tidak ada hubungannya dengan social distancing akibat Covid-19 yang telah mengurangi polusi udara dan emisi gas rumah kaca secara drastis belakangan ini.

Selain itu, telalu dini untuk menentukan apakah pusaran kutub Arktik yang terlalu stabil ada hubungannya dengan krisis iklim atau sekadar bagian dari cuaca stratosfer normal yang bervariabel.

Kabar baiknya, lubang berukurang besar yang terbentuk di kutub utara secara tidak biasa ini diprediksi tidak akan membahayakan manusia, kecuali jika bergerak ke selatan hingga mencapai area padat penduduk. Pasalnya jika sampai ke area padat pendudu, risiko terbakar sinar matahari akan meningkat.

Para ahli pun memprediksi bahwa lubang ini akan menghilang dalam waktu beberapa hari ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *