Kebakaran Kilang Pertamina Indramayu, Fakta Petir di Indonesia yang Belum Kalian Tahu !

Kebakaran Kilang Pertamina Indramayu, Fakta Petir di Indonesia yang Belum Kalian Tahu !

 

Meledak dan terbakarnya kilang minyak milik PT Pertamina RU VI di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada Senin (29/3/2021) dini hari diduga disebabkan oleh sambaran petir. Dugaan tersebut disampaikan oleh Corporate Secretary Subholding Refining and Petrochemical Pertamina, Ifky Sukarya.

Pada dasarnya, sambaran petir memang bisa menyebabkan ledakan dan kebakaran pada kilang minyak. “Kejadian (kebakaran) karena petir sebenarnya sudah berulang kali terjadi di kilang-kilang minyak instalasi Pertamina,” kata peneliti petir sekaligus Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Dipl Ing Ir Reynaldo Zoro, seperti dilansir Kompas.com.

Zoro menjelaskan, jenis petir yang ada di Indonesia berbeda dengan jenis petir yang masuk dalam standar keamanan yang dipakai Internasional. Standar ini pula yang diacu oleh Pertamina.

“Jadi artinya kurang cukup, perlu proteksi yang lebih (untuk kilang minyak terhadap petir di Indonesia),” ujar Zoro.

Penjelasan Sains tentang Petir di Negara Tropis

Berdasarkan riset yang dilakukannya sejak tahun 1992, Zoro menemukan adanya karakteristik khusus pada petir tropis di Indonesia. “Itu berbeda dengan karakteristik petir subtropis yang dijadikan (acuan) standar internasional (untuk perlindungan tangki minyak) dan menjadi acuan Pertamina sekarang.”

Petir di Indonesia, menurut penjelasan Zoro, sangatlah spesifik. Dalam standar kilang minyak internasional, disebutkan bahwa tangki minyak tidak perlu diberi proteksi tambahan karena dianggap sudah aman. Namun, “ternyata kalau di Indonesia enggak (cukup). Karena petir kita ternyata memiliki karakteristik berbeda,” kata Zoro.

Zoro menjelaskan karakteristik petir di Indonesia memiliki ekor yang lebih panjang dan amplitudonya lebih tinggi. “Sehingga bagian tangki yang di atas, kalau kena petir bisa bolong. Kalau sudah bolong, ada (tercipta) segitiga api berupa oksigen, api, dan ada bahan bakar (yang bisa menyebabkan ledakan),” papar Zoro.

Menurut catatan Zoro, ada beberapa kilang minyak milik Pertamina di Indonesia yang sebenarnya sudah diberikan proteksi lebih. Namun “beberapa yang sudah diproteksi adalah beberapa (kilang Pertamina) yang sudah kebakaran,” tuturnya.

Zoro membeberkan, hal ini berbeda dengan kilang minyak yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia. Mereka sejak awal sudah sadar bahwa karakteristik petir di Indonesia berbeda dari petir global sehingga kilang minyak yang mereka bangun di Indonesia memerlukan proteksi tambahan.

Menanggapi kejadian terbakarnya kilang minyak di Balongan, Zoro mengaku sudah berkomunikasi dengan Dirjen Pertamina dan menegaskan proteksi tambahan memang harus diberikan melebihi standar Internasional.

“Tadi Pak Dirjen bilang, fokus sekarang madamin api dulu. Kalau api sudah padam, kita lakukan evaluasi,” ucap Zoro. “Jadi memang kuncinya itu. Petir kita (petir tropis) berbeda dengan petir subtropis,” tegasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *