Ditarik Dari Peredaran, Obat Ranitidin Menyebabkan Kanker

Ditarik Dari Peredaran, Obat Ranitidin Menyebabkan Kanker

Saat ini masyarakat dan dunia kesehatan tengah di hebohkan dengan penarikan sejumlah obat yang mengandung renitidin. Sebelumnya obat ini telah beredar luas dan di konsumsi oleh masyarakat yang mendapat resep dari dokter selama kurang lebih 30 tahun.

Namun kini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah memerintahkan agar semua produk dari ranitidine di tarik dari peredaran, yaitu produk ranitidin yang mengandung N-nitrodimethylamine (NDMA).

Alasan di balik penarikan produk ranitidine adalah di karenakan ranitidine yang mengandung NDMA memiliki kandungan zat yang bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. Produk ini sendiri telah di pakai selama 70 tahun pemakaian dan telah menyebabkan kanker pada kasus 1 banding 100.000 pasien.

Dilansir dari Kompas.com, Ranitidin adalah salah satu obat yang selama ini di gunakan untuk menekan produksi asam lambung.

”Fungsi utama ranitidine adalah mengurangi produksi asam lambung. Obat yang mengandung ranitidine biasanya digunakan untuk mengobati sakit maag” jelas pakar Farmalogi &Clinical Research Supporting Unit FKUI, Dr. Nafrialdi.

Ranitidine di jual di pasaran dengan merk dagang antara lain Zantac, Rantin, dan juga Hufadin.

Berdasarkan informai dari Penny K. Lukito, Kepala BPOM, di ketahui bahwa pemberian izin untuk ranitidine sudah ada sejak tahun 1089. Perijinannya dalam bentuk tablet, sirup, dan juga injeksi dan berdasar pada kajian evaluasi keamanan, khasiat dan mut.

Namun pada tanggal 13 September 2019, tepatnya setelah 30 tahun beredar di pasaran, BPOM Amerika Serikat (FDA) dan BPOM Eropa (EMA) membuat pernyataan dan mengumumkan kepada seluruh dunia tentang penemuan cemaran NDMA dengan dosis rendah pada sampel produk yang mengandung bahan aktif renitidin. Mereka pun memperingatkan kepada semua negara yang belum mengetahui fakta tersebut.

Didasari oleh temuan NDMA dengan kadar 96 ng/hari, BPOM memutuskan melakukan pengambilan sampel dan menguji produk ranitidine. Adapun hasil pengujian tersebut, ternyata memang terbukti benar dan bahkan beberapa sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas diperbolehkan

Kenapa Baru Sekarang?

“Pada proses pendaftaran obat, dipersyaratkan pengujian mutu di antaranya impurities. Namun karena ada beberapa metode analisis yang baru di temukan (dari FDA dan EMA) maka pengujian dua kali harus di tambahkan.”  Ujar Rizka salah satu narasumber dari kompas.com

Ketika di Tanya apakah BPOM pernah melakukan kajian ulang atau tidak, Rizka mengaku bahwa secara simultan BPOM telah melakukan pengujian berdasarkan metode yang sudah di kembangkan.

Untuk saat ini obat yang di telah ditarik dari pasaran ada lima jenis dan tergolong obat ranitidine cair dan injeksi

Produk yang di tarik terbukti positif mengandung NDMA dan berbahaya untuk di konsumsi  karena dapat menyebabkan kanker.

Produk tersebut telah di tarik secara sukarela dari para produsennya antara lain.

  1. Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia
  2. Rinadin Sirup 75 mg/5mL dari PT Global Multi Pharmalab
  3. Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Indofarma
  4. Ranitidine cairan injeksi 25 mg/mL dari PT Indofarma

 

Obat obat tersebut sebelumnya telah di uji dan terbukti positif mengandung cemaran NDMA diatas ambang batas aman yakni ( 96 ng/hari).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *